Deskripsi
Menyulam
Asa, Tumbuhkan
Sejahtera di Rawajaya
Penulis
Ilham Sidiq
Setiaji Rizkianto
Desain Cover:
Muhammad
Opan Fadilah
Tata
Letak
Husnul
Hafidhoh
Editor:
Husnul
Hafidhoh
ISBN:-
by
Penerbit CV. Ridwan Publisher
Halaman : 62
Sinopsis :
Buku
ini dimulai dengan dua wajah Jakarta, satu yang berkilau di
baliho dan gedung pencakar langit satu lagi yang tersembunyi di
balik gang gang sempit dan permukiman padat Di ujung
perjalanan ini ada baiknya kita kembali sejenak ke dua wajah
itu sebab sesuatu telah berubah pada cara memandangnya
Wajah
kedua Jakarta, yang dahulu hanya terlihat sebagai
deretan persoalan kemiskinan kepadatan tumpukan sampah
kini juga menyimpan sesuatu yang lain, yaitu bukti bahwa
persoalan persoalan itu bukan jalan buntu Sepetak RPTRA di
Kelurahan Pondok Kopi, yang dahulu hanya dikenal sebagai
lahan kosong penuh sampah telah menunjukkan bahwa lahan
kritis bisa berubah menjadi sentra ketahanan pangan bahwa
sampah rumah tangga bisa berubah menjadi kompos dan karya
dan bahwa kelompok rentan yang selama ini luput dari
perhitungan ekonomi formal, ternyata mampu menjadi
penggerak utama sebuah rantai nilai yang menghidupi banyak
orang
Bu
Asih, Bu Ratna, Rian, dan Mbah Warsih meski tokoh
gabungan yang disusun dari data dan dokumentasi mewakili
sesuatu yang sepenuhnya nyata yaitu puluhan warga Pondok
Kopi yang setiap hari memilih untuk terus menanam mengolah
memilah dan menyulam tanpa selalu disorot kamera atau
dicatat dalam laporan tahunan yang gemerlap Merekalah yang
sesungguhnya menjadi tokoh utama dari seluruh cerita ini jauh
melampaui program, dokumen maupun buku yang mencoba
menceritakannya kembali
Bagi
pembaca yang bekerja di bidang tanggung jawab sosial
perusahaan semoga buku ini menawarkan satu gambaran
bahwa program yang baik tidak harus dimulai dari anggaran yang
besar melainkan dari kesediaan untuk melihat sebuah wilayah
secara utuh memetakan kebutuhan dan potensinya secara jujur
lalu merancang intervensi yang saling terhubung bukan berdiri
sendiri sendiri Bagi pembaca yang bekerja di bidang
pengembangan masyarakat maupun akademisi semoga buku ini
menjadi salah satu contoh bagaimana teori dan praktik dapat
berjalan berdampingan saling memperkaya tanpa satu pun
harus mengalah pada yang lain
Dan
bagi pembaca yang tidak berasal dari kedua bidang itu yang
sekadar penasaran dengan kisah di balik program pemberdayaan
yang jarang diketahui publik semoga buku ini mengajak untuk
melihat sekeliling dengan cara yang sedikit berbeda Barangkali
ada sepetak lahan kritis di dekat tempat tinggal masing masing
pembaca yang selama ini hanya dilewati tanpa banyak
dipikirkan Barangkali ada tetangga yang menghadapi
kerentanan serupa dengan yang dialami Bu Asih, Bu Ratna, Rian,
atau Mbah Warsih namun belum pernah mendapatkan ruang
untuk menunjukkan apa yang sebenarnya mereka mampu
lakukan
Pusaka
Rawajaya sebagaimana ditegaskan pada bab
sebelumnya belum menjadi kisah yang tuntas Tahap
kemandirian dalam peta jalannya masih berada di depan
replikasi ke Cawang masih pada langkah awal dan sejumlah data
masih menunggu untuk dilengkapi Namun barangkali
kesempurnaan bukanlah tujuan dari sebuah perjalanan yang
baik Yang lebih penting adalah arah yang dituju dan sejauh
mana keberanian untuk terus melangkah meski belum semua
jawaban tersedia
Perjalanan
dari Pondok Kopi ini dengan segala keterbatasan dan
capaiannya mengajarkan satu hal yang sederhana namun
mudah dilupakan di tengah hiruk pikuk kota besar bahwa
perubahan besar sering kali dimulai dari langkah yang sangat
kecil sepetak lahan satu kelompok warga satu keputusan untuk
tidak membiarkan sesuatu yang tampak tidak berharga tetap
terlupakan


Ulasan
Belum ada ulasan.